Kedamaian di Desa-desa Pada Jaman Yesus


KABAR BAIK - Kedamaian di desa memang sudah menjadi tradisi. Toleransi dan kekeluargaan dijunjung tinggi. Orang saling bahu-membahu dan bekerjasama untuk mewujudkan keharmonisan. Keharmonisan ditunjukkan di antara sesama manusia dan ciptaan.

Orang-orang desa mencintai lingkungan. Sampah organik mudah terurai begitu saja. Mayoritas sampah memang mudah di daur ulang oleh alam.

Tapi keadaan bisa berubah kapan saja. Ada warga desa yang kemudian menjadi intoleran dengan sesama. Tentu ini dipengaruhi oleh ajaran luar yang ingin memecah-belah desa. 

Baca juga: Orang Samaria; Dibenci Tapi Penuh Kasih

Dengan alam juga begitu. Sampah-sampah plastik, stereofoam, punting rokok, dan popok bayi semakin banyak ditemukan di desa. Maka jadilah desa penuh dengan sampah-sampa anorganik yang tidak mudah didaur ulang. 

Kedamaian juga terdapat pada desa asal Yesus, Nazaret. Desa ini menjadi desa tempat dimana Yesus tumbuh. Ia bermain dan belajar untuk kemudian beranjak dewasa.

Suatu ketika Yesus pulang dan mengajar di Sinagoge, Ia ditolak. Apa pasal? Penolakan warga atas khotbahNya dilatari oleh teriakan bahwa Yesus adalah tukang kayu!

Karena suatu provokasi kecil, warga desa yang masih polos begitu mudahnya terprovokasi. Mereka membenci dan tanpa pandang buluh kemudian ingin memasukkan Yesus ke jurang.

Kedamaian desa dan dimanapun kita berada haruslah kita jaga. Mulai dari kita yang memulai dengan semangat tegur sapa. Lalu kedamaian bertumbuhlah.

Kedamaian di Desa-desa Pada Jaman Yesus Kedamaian di Desa-desa Pada Jaman Yesus Reviewed by Kabar Baik on 5:27:00 PM Rating: 5
Powered by Blogger.